Friday, December 29, 2006

Dag Dig Dug

Heh...panas dingin badanku belum juga hilang. Sudah seminggu ini seperti ini terus, padahal aku sudah beberapa hari marathon subuh. Bertambah lagi penderitaan ini dengan perasaan yang tak menentu disebabkan dag dig dug. He..he..malu aku mengatakannya.Ya ..perasaan yang tak menentu ini yang menjadi faktor utama mengapa aku seperti sekarang ini. Jika malam aku tak bisa nyenyak tidur sehingga ketika pagi datang dan tiba waktunya aku pergi kerja, aku merasa tidak fit dan fresh. Begitu juga ketika aku dikantor, fikiranku melayang terus entah kemana. Aku pun merasakan boring yang berkepanjangan. Mendekati hari H (cie....) aku semakin tak menentu. Malam terasa pendek dan siang terasa begitu melelahkan. Kuhabiskan waktu ku dengan membaca buku, dengan maksud supaya aku tak memikirkan apa yang menjadi pengganjal hatiku dalam seminggu ini. Aku bertekad akan menunggu sampai menemui waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya dengan segala konsekuensi nya tentu. "Ribak sude nai" kata orang Batak supaya aku mempunyai kekuatan psikis dalam menghadapi ini. Lebih baik kukatakan walau sepahit apapun akibatnya. Telah aku tanamkan didalam hatiku. Ya..aku akan mengatakan semunya kepada orang yang telah menyiksaku seperti sekaran ini.
Juga berkat dukungan teman kantor, akhirnya aku memberanikan diri menghadapi masalah ini.
Thanks for all friends, aku sangat terbantu dengan dukungan moral kalian semua. Kalau semua ini sudah selesai pasti akan kukatakan sejujur dan sedetailnya apapun hasilnya. Terima Kasih Ya.Allah atas semua yang telah kudapatkan, dan aku akan terus memujamu atas semua ini..


Diantara kegundahan hati menjelang hari H

Seperti yg diceritakan oleh Mr.Z

Friday, December 08, 2006

Akhirnya Aku Menyerah

Ha..ha…rasanya aku pingin tertawa saja begitu mengetahui banyak rekan – rekan ku yang menanyakan apa status massage di YMku. Intan, pagi – pagi sekali sudah connect ke aku dan menuliskan “kenapa kau bang?.Begitu juga kak leni ketika membaca kata – kata itu.”Akhirnya aku menyerah”,itu tulisan yang aku buat .Padahal sebenarnya itu status YM ku malam kemarin. Hari itu aku mendapat shift malam. Sekitar jam 20.00 wib aku tak dapat lagi menahan rasa kantuknya yang makin menjadi – jadi saja. Berulang – ulang sudah aku mencuci wajahku dengan pergi ke rest room. Mungkin kalau aku hitung sudah lima kali aku bolak – balik. Hingga pada akhirnya sambil menjawab pertanyaan dari pelanggan aku membuat status massage di YM menjadi kata “Akhirnya aku menyerah”.Sebenarnya ada dua alasan mengapa aku membuat kata – kata itu. Yang pertama ya… itu tadi. Dan yang kedua, kebetulan beberapa hari sebelum itu, akan diadakan acara “Halal bin Halal” kelompok nasyid yang beranggotakan beberapa orang dari rekan kerja mengisi acara. Mereka meminta aku ikut membantu , padahal aku tidak begitu ahli dalam memainkan alat music, hanya sekedar bisa. Ada beberapa alternative memang yang kami fikirkan, namun akhirnya alternative terakhir yaitu aku mendapat tugas untuk mengiringi mereka dengan memainkan gitar. Aku memang sosok yang tidak begitu suka dengan publisitas atau unjuk muka. Makanya aku mati – matian untuk menolaknya. Namun akhirnya aku tidak bisa menolak lagi selain menggunakan aku sebagai additional personil. Itulah mengapa aku membuat kata tersebut sebagai status message ku.

Thursday, November 23, 2006

Blm ada Judul

Atas nama Allah, kutulis puisi sebait ini
Berulang sudah cobaan yang Kau beri padaku
Riuh, rentan
Hancur, luluh
Raga dan jiwaku

Nistanya aku
Yang kadang mencercamu
Karena cobaan-Mu…

Tapi…
BerkahMu atau apapun yang tersirat…
Ku mengiyakan seraya berbahagia
Kau beri daku anugerah sejati
Apakah maksudnya ini?
Tiadalah manusia sekotor diriku mengetahuinya
Hanyalah kata yang terucap

Kusadar betapa besar berkah-Mu
Dimasa sulitnya hidupku
Hadir seorang bidadari
Yang terkasih bersamaku

Hanyut hatiku
Lupa sudah cercaku
Seraya berganti sujud syukurku
Atas hadirnya ia disisiku

Kupuja ia setelah diri-Mu
Kukecup mesra ia
Kubayangkan ia didalam kalbuku
Oh…indahnya
Kuberjanji didalam hati
Kuat raga setelah berkah-Mu
Terunjam jauh dan dalam

Kujaga ia
Ku kasihi ia
Ku hiasi hari-harinya

Pergilah deritaku dan deritanya
Satulah diriku dan dirinya

Damailah ia disisiku
Berbagialah ia bersamaku

Bersama berdua…
Do’a reucap disela kata
Sesudah masa-masa
Akan setia sepanjang masa
Semoga Allah Rahmah
Jalinan kasih kita

NB.
Kadang kebalikan terjadi, seperti puisi yang tak berjudul ini.
Apapun yang tertulis, semuanya adalah apa yang ada dihatiku pula.
Janganlah diambil tamsilan yang lain2
Karena itu akan menimbulkan arti yang berbeda atas dasar persepsi yang berbeda pula.

Created 20 Feb 2002

Tuesday, November 21, 2006

Balada Capung Jantan

Di sebuah batang pohon yang kosong
Hanya tinggal seekor capung jantan
Ia tampak susah dan lelah serta letih
Tanpa terduga,
Melintas seekor capung betina
Ia berputar-putar memperhatikan
Seakan hendak menyelidik
Keadaan disekitar batang pohon itu
Diwaktu dingin dan malam yang segera tiba
Sang Capung jantan menawarkan pertolongan kepada capung betina
“Maukah kau memberikan kesempatan bagiku untuk singgah”
“Tak apalah, tapi lihatlah gubukku ini!”
“Reot dan bocor dimana-mana”
“Kaukan terkena air dan rabuk dari kayunya”
“Tak mengapa”, jawab sang capung betina
“Kan kubantu kau untuk memperbaikinya”
“Sejak esok hari dan seterusnya”
“Sampai batas waktu yang tak tertentu”
Barulah diketahui oleh sang capung betina,
Bahwa sang capung jantan begitu rapuh dan butuh pertolongan
Sedang capung betina begitu kuat dan semangat dibalik kelembutannya

Perlahan-lahan mereka mereka berdua bekerja
Tiada letih sang capung betina menuntun dan..
Ditumpahkannya segenap perhatiannya
Batang pohon sudah diperbaiki
Semangat sudah dibangkitkan
Ragapun sudah kuat pula
Betapa berterima kasihnya sang capung jantan
Tapi pada saat itu pula timbul perasaan cintanya
Tiadalah ia dapat menyatakan rasa senang dan cintanya
Hanya kesetiaan dan perhatian yang dapat diberikannya
Disamping do’a disetiap waktu pada kata yang terucap
Akan keselamatan, kesehatan untuk capung betina

Begitu besar cinta sang capung betina
Betapa bahagianya ia…
Kamis, 15.10PM Created 20 Feb 2002

Thursday, November 16, 2006

Berita Bahagia

Hari itu aku harus masuk pagi. Pagi - pagi sekali aku sudah bangun dan mandi. Setelah selesai sarapan pagi dan memakai jaket serta sepatu, aku berjalan ke garasi dan mengeluarkan sepeda motor. Tak lupa ku pakai helm. Setelah menghidupkan sepeda motor, aku mendorong melewati pagar dan duduk diatas sepeda motor dengan maksud untuk memanaskan sepeda motor. Tiba - tiba saja Hp ku berbunyi. Ada sms yang masuk, dari siapa ya.. yang sudah mengirim sms sepagi ini. Kuambil ponsel dari kantong celana, dan kubaca. Ah.. ternyata dari abang ku yang di kampung. "Kak Wina sudah masuk ruang operasi, doakan supaya lancar" begitu ini pesan singkat yang dikirim abangku. Tapi fikir panjang langsung kutekan tombol - tombol ponsel untuk menghubungi dia, sesaat panggilanku sudah tersambung. Tersengar suara abangku "Assalamualaikum" kataku.
"Waalaikumsalam" terdengar suaranya.
"Bagaimana kabarnya Kak Wina, masuk ruang operasinya kapan", tanyaku lagi
"Sekarang lagi didalam ruang operasi, air ketubannya sudah pecah", jawabnya
"Tolong doakan ya..."pintanya
"Iya- iya, jangan lupa kalau nanti bayinya sudah lahir jangan lupa diadzankan kalau laki - laki atau diiqomatkan kalau perempuan", jawabku cepat
"Assalamualaikum" kututup pembiacaraan singkat itu.
Setelah itu, sepanjang perjalan ke kantor tak henti - henti kubaca tahmid, tahlil dan takbir serta tak lupa Al-fatihah, dengan harapan diberikan kelancaran dalam proses operasi dan keselamatan baik bagi Kak Wina dan bayinya kelak.
Sepanjang hari itu hatiku berdebar - debar. Tapi bagaimana tidak berdebar - debar hatiku menginggat ini adalah kelahiran calon keponakanku yang pertama. Ku merasa bahagia dengan kabar ini. Sampai pada akhirnya tengah hari aku mendapat sms singkat dari abangku kembali yang menginfokan bahwa bayinya telah lahir. Langsung saja kutelpon kembali dia..
"Assalamualaikum bagaimana kabar Kak Wina dan bayinya" tanyaku cepat
"Baik - baik saja, proses kelahirannya dengan operasi caesar dan bayinya lahir sempurna, laki - laki" jawabnya
"Alhamdulillah" syukur kupanjatkan
"Kirim salam buat semuanya ya..."kataku
"iya..."jawabnya singkat
Bahagia dan lega rasanya setelah menerima kabar tadi. Anggota keluarga kami telah bertambah satu. "Bagaimana ya perasaan mamakku disana"gumanku. Dia pasti bahagia telah mendapatkan cucu dari anak pertamanya. Sayang ayahku tak sempat melihat semua ini. Tapi tak mengapalah dia pasti gembira juga disana melihat cucunya lahir. Terlintas dibenakku keinginan untuk pulang ke kampung dan melihat keponakanku. Mudah - mudah aku dapat kesempatan libur.

Saturday, October 21, 2006

Ku berdosa

Tak terasa Bulan Ramadhan akan berakhir sebentar lagi. Tetapi kesedihan dihatiku semakin menjadi saja. Teringat akan kisah lalu yang sulit untuk dilupakan. Betapa manusia sekotor dan senista diriku tetap saja tak berubah dari dulu. Merasa semua yang ada sekarang pasti akan didapat di masa - masa berikutnya. Dari tahun ketahun selalu saja membuat kesalahan yang sama. "Oh....diri, apakah kau tahan menerima azab-Nya sehingga bersombong dan berlagak kuat dan mampu menahan semuanya". Ketika takbir berkumandang mengapa matamu berlinang, kenapa hatimu menjadi syahdu, mengapa diri membisu, mengapa tubuhmu menjadi layu? "Beraninya kau menikmati semuanya, beraninya kau menenggadahkan wajahmu, berani kau berujar..." padahal hanya beberapa kali saja kau duduk, hanya beberapa kali saja kau dalam waktu yang panjang teringat. Oh....wahai jiwa yang kotor, fikiran yang buruk...betapa hinanya diri.
Dulu, buruk lakumu, 3 tahun kau bergelimang dalam dosa yang untuk kau tebus dengan apapun di dunia ini tidak akan terbalas dan tidak akan menentramkan. Tetapi, sekarang itu juga yang kau lakukan walau tak seburuk sebelumnya. Kenapa selalu saja berbuat sesuatu itu berulang - ulang.
Terkadang berjanji, tetapi jarang ditepati. Mungkin sesuatu yang cukup besar dan mempunyai arti yang besar yang bisa membuatmu sadar akan semuanya...


Medan, 21.10.06

Tuesday, October 03, 2006

Si Gila Bercerita tentang Si Dara Jelita

Created 20 Feb 2002 Kamis, 16.45PM


Bila kau ingin tahu
Betapa ku mencintaimu

Bila kau ingin tahu
Betapa ku membencimu

Bila kau ingin tahu
Betapa besar kecintaanku daripada kebencianku

Bila kau ingin tahu
I love u

Bila tiba saatnya
Kau benci diriku
Janganlah kebencianmu lebih besar dari kebencianmu terhadap hari seninmu
Karena pada hari itu tetap saja kau tersenyum
Karena kecerianmu, karena senyummu, karena rasa sayangmu,
Karena perhatianmu, karena semua yang ada pada dirimu
Sungguh membuatku gila
Bukankah karena kegilaan tidak mengharuskan kita menjalankan sholat
Tetapi kebalikannya
Kegilaanku, mendorongku untuk mencintai-Nya
Kegilaanku mengharuskan aku mennyusupkan kepalaku
Ditanah mengharapkan ridhonya

Manusia bodoh seperti diriku
Merasai cinta tulus seorang dara jelita
Oh…, salahnya peruntunganku benarnya titah Tuhanku
Menitipkan aku seorang dewi
Dengan kasih dan sayang dilengannya
Dengan sirep ampuh di bibirnya
Memaksa diriku untuk tunduk dan patuh

Tapi itulah istimewanya ia
Walaupun berjaya dan kuat tetap saja berkata merendah
Dibalik do’a serta sholatnya
Meminta ridho yang Maha Kuasa
Atas tugas mulia membimbing pasangannya

Kegilaan memang gila
Nista jua yang ada
Daku gila selalu memaksanya
Atas hal yang tak disangka
Atas hal yang membuatnya kecewa

Meski bila ku menebusnya
Kubasuh jiwa dan raganya
Dengan air tujuh lapisan langit
Dan bunga dari sembilan belahan dunia
Seraya berkata
“Maafkan Daku Dinda”



Ada hal yang tak pernah disangka
Aku dapat menbuat puisi ini
Yang dapat memaksaku dihari ini
Seraya berdoa atas keselamatannya